Langsung ke konten utama

#1 Tetaplah Melangkah


Dear Rafiqah Setiawaty

Apa kabar hari ini? Masihkah senyum itu merekah manis? Masihkan mimpi-mimpi itu membuatmu terjaga dari lelap?

Jika iya, lalu ada apa dengan suara sumbang itu? Mengapa akhir-akhir ini selalu ada keluh yang keluar dari mulut yang sama dengan yang dulu pernah berjanji tak akan menyerah?

Mari kita kembali ke masa lalu. Ingatlah pertama kali saat kau dengan tega menyesatkan langkahmu pada pilihan ini. Mencoba untuk keluar dari tempurung. Melihat lebih luas dan melangkah lebih jauh. Betapapun orang-orang menentangnya, kau tetap kukuh. Katamu dunia itu luas dan mimpimu terlalu berharga untuk dikorbankan.

Ingatlah dirimu yang dengan semangat menyusun kepingan-kepingan mimpi menjadi utuh. Ingatlah harga yang sudah kau bayar demi setiap keping. Ada keringat, air mata dan doa yang tak pernah putus di situ. Dan yang lebih penting, ingatlah siapa yang harus kau tinggalkan demi menyusun kepingan-kepingan selanjutnya.

Kepingan-kepingan itu memang masih sangat jauh dari utuh, tapi bagian yang sudah kau selesaikan juga tak sedikit. Lelah memang, tapi sejak awal tak ada yang bilang jalannya akan mulus.

Semua orang akan sampai pada titik akhir tapi tak semua akan sampai pada tujuan. Beberapa mungkin terjatuh di tengah jalan dan memutuskan untuk berhenti. Itulah titik akhir mereka. Beberapa terjatuh tapi bangkit kembali meski harus terseok. Tak ada yang bisa melenggang dengan lancar karena Tuhanpun tak pernah menjanjikan semuanya akan mudah. Tapi Dia selalu menjanjikan jalan keluar. Kau hanya perlu terus melangkah dan bersabar dalam setiap langkah itu.

Istirahatlah sejenak jika kau lelah, mengeluhlah sesekali jika kau jenuh, dan bahkan menangislah jika kau merasa sesak dan tak ada ruang lagi tersisa di hatimu. Tapi jangan lupa untuk kembali melangkah meski jalan yang kau lewati tak melulu indah. Meski acapkali kau jatuh dan mengaduh.

Ingat, aturannya sederhana: yang sampai pada tujuan adalah yang tak pernah berhenti melangkah.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Glimpse of Memorable Memories

I am writing this with Kiss the Rain and Stay in Memory by Yiruma playing in Youtube. It seriously making me baper . I am trying to remember every single thing we've been through together in the past 3 months. But this is not gonna be a long post that show every details. It's just the voice of  my heart (I don't know how to say curahan hati in English). Sorry if there are some things missed. Our story started at 29th of November 2015. In the day before the opening of our course program, we decided to meet in the gate of ITB for looking for a language center building. There were only 8 of us. Some of us maybe already knew each other because we came from the same region. But mostly, that was our first meet. Oh yes, I already met Cintya the beautiful moon accidentally in Juanda airport before. The next day, we finally met each other. All of us. I remember we sat in the front, introduced our name and the place where we came from. I also remember the Jembernese came togethe...

Ramadhan

 Walaupun masih banyak sekali kekurangan, Ramadhan tahun ini ternyata merupakan salah satu Ramadhan terbaik yang bisa saya jalani. Anak yang sudah lebih besar dan mandiri, jarak tempat tinggal dan kantor yang hanya 5 langkah, dan jam kerja yang lebih fleksibel, mungkin adalah beberapa hal yang membuat Ramadhan kali ini terasa lebih khidmat. Ramadhan-ramadhan sebelumnya sebagai ibu hamil, menyusui, ibu dengan bayi menuju toddler, jam kerja yang masih padat, membuat saya kewalahan dalam mengatur ibadah. Puasa jelas banyak yang ketinggalan. Sholat sunnah sebisanya saja, yang penting sholat wajib tidak ketinggalan. Sholat tarawih dan Qur'an? Selalu diusahakan sebisanya. Duo ibadah primadona di bulan Ramadhan ini harus diikhlaskan karena masih sering ketempelan bocil. Meskipun kadang merasa sedih karena Ramadhan selalu menjadi waktu istimewa untuk umat Muslim, nyatanya saya hanya bisa melaluinya dengan ibadah 'alakadarnya'. Lalu saya bertemu dengan sebuah nasihat dari ukhti fill...

After They Left

I used to like to be alone. I can do anything I want without worrying about others. I always enjoy my me-time. I like to go to anywhere with myself because going with others will make me be depending on them. I liked to explore new places with myself. Yes, my self is enough for my company. I enjoyed being with my own. I liked to stay at my room for hours (with bunch of snacks, good movies, good dramas, good books). I didn't need any internet connection, I never touched my phone, and the door and window were always closed. Yes, I really enjoyed that. Sometimes, I went to the public space just with my own. Looking at the people, taking picture, doing silly things, alone. Sometimes I just went around the city by motorcycle with no direction. Alone. Sometimes I spent hours in bookstore (Being surrounded by books is my mood booster). Alone. No, I'm not an introvert. Ask my close friends or family, they know me really well. I just feel comfortable with my own company. I have m...