Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Rumah Tangga Muda

Kebebasan dan Tanggung Jawab

Salah satu sambat yang sering saya katakan pada suami sejak menjadi Ibu adalah: saya merindukan 'kebebasan' saat belum punya anak. Hidup yang sebelumnya tampak mudah kini harus melakukan banyak penyesuaian. Terdengar egois, tapi sebagai Ibu with no nanny no ortu, 24 jam bersama anak di rumah saja tanpa bertemu siapa-siapa, sambat seperti itu rasanya wajar. Dulu sebelum jadi Ibu, weekdays maupun weekend selalu penuh dengan agenda. Kegiatan di sana-sini, atau sekedar jalan-jalan bersantai bersama teman. Setelah menjadi Ibu rasanya bahkan teman saja tidak punya. Obrolan rasanya udah beda server. Itulah kenapa saya tidak resign dari pekerjaan saya (yang waktu itu masih WFH). Selain karena saya suka mengajar, saya merasa itulah satu-satunya cara saya berkomunikasi dengan grown up. Walaupun kerepotannya dobel, mengurus anak, rumah dan pekerjaan sekaligus, setiap hari. Jika manusia membutuhkan uang, waktu, dan energi untuk dapat menjalani kehidupan dengan baik, maka untuk seorang anak...

Episode 4

Tiga tahun menikah, banyak hal yang kami lalui sebagai pasangan. Mulai dari masa adaptasi di awal, masa kasmaran, masa berantem, baikan, berantem lagi, masa sayang-sayangan, masa diem-dieman, dll. Dinamika pernikahan ini memberikan warna tersendiri dalam hidup kami. Dari banyak hal yang dilewati, bagi saya pribadi, ada beberapa hal positif yang -secara tidak sengaja- saya dapatkan dari pernikahan ini. 1. Interaksi yang Lebih Terjaga. Setelah menikah, rasanya lebih terjaga karena memang saya mulai membatasi interaksi tidak penting dengan lawan jenis. Saya akan berpikir 2 kali sebelum membalas story teman laki-laki. Kalau tidak penting mending tidak usah. Interaksi offline maupun online saya batasi hanya urusan pekerjaan atau urusan yang benar-benar penting. Selebihnya, ya untuk apa. 2. Terjaga dari kesiaan waktu. Berbeda dengan saat masih single, saat waktu luang saya lebih banyak, setelah menikah apalagi setelah punya anak, saya cukup kesulitan untuk sekedar me time. Hampir semua waktu...

Motherhood

 Tumben shift saya selesai secepat ini. Suami lagi ada meeting, and here I am, checkin my blog dan menyadari bahwa terakhir kali menulis di sini udah 5 bulan lalu. Waw. Anyway, yang dimaksud dengan shift di sini adalah pekerjaan utama saya sebagai ibunya Maryam. Jadi shift saya dimulai sejak dia bangun pagi, sampai tidur lagi di malam hari. Karena hari ini libur, saya jadi nggak kerja dan Maryam jadi bisa tidur cepat (di bawah jam 8). Jadii mari kita bercerita sedikit. Tentang dunia baru saya. Tentang menjadi ibu. Ciehh. Seperti manusia lainnya, saya sudah melewati banyak sekali fase sebelum sampai ke sini. Setiap fase membutuhkan adaptasi karena bisa jadi banyak yang berubah dengan keadaan. Dan harus saya katakan bahwa menjadi ibu adalah adaptasi terbesar yang pernah saya alami. Mungkin, seorang yang telah menjadi ibu pun, pengalamannya bisa berbeda. Yang tinggal bareng suami dengan bantuan orang tua/mertua,yang LDR, yang tinggal bareng suami dibantu ART, yang mandiri tanpa orang ...

Episode 3: Konflik

Agak maju mundur mau nulis ini karena saya juga masih kesulitan dengan manajemen konflik. Saya pengen postingan di blog ini tetap bijak, tapi nyatanya saya nggak sebijak itu. Jadi saya menuliskan pengalaman dan kontemplasi saya aja. Sekalian memperingati 2 tahun pernikahan kami. Sejujurnya, saya bukan orang yang mahir dalam manajemen konflik. Sejauh ini yang saya bersyukur bahwa konflik kami nggak jauh-jauh dari rebutan kamar mandi, pulang telat, terlalu sibuk dengan urusan masing-masing, susah nyari quality time berdua, dll. Jangan dibayangkan berantemnya berantem yang romantis alaala drama gitu ya. Nggak. Kami yang beneran berantem gegara hal itu wkwk.  Satu saya pelajari, dalam rumah tangga, nggak ada yang namanya racikan pas untuk menengahi sebuah konflik. Sama halnya dengan nggak ada racikan yang paten dalam membangun chemistry. Semuanya bergantung dari kondisi masing-masing. Tapi yang penting adalah, semua hal selalu bisa diusahakan. Kita bisa melihat sejauh mana keinginan du...

Episode 2: Kemelekatan

Dulu sebelum menikah, saya melihat perilaku terlalu bergantung dengan pasangan, selalu meminta perhatian dan membatasi gerak pasangan, atau perempuan yang selalu ingin dekat dengan pasangan adalah perilaku norak. Bagi saya, perempuan adalah manusia independen, hamba Allah yang memiliki kelebihannya sendiri, yang juga dibekali akal dan hati untuk mengontrol perasaan dan logikanya. Dan yang pasti, perempuan adalah makhluk yang utuh dengan atau tanpa perhatian dari pasangannya. Namun kenyataannya, setelah menikah indepedensi saya sebagai perempuan diuji. Saya malah menjadi norak. Saya suka mencari perhatian dan saya merasa sangat melekat dengan suami. Saya merasa suami adalah milik saya sepenuhnya, yang tingkah lakunya harus saya kontrol selalu, yang keberadaannya harus selalu dalam radar saya, yang eksistensi dan ruang geraknya seperti ingin saya kunci dalam genggaman saya. Yang perhatiannya harus selalu tercurah untuk saya. Senorak itu seorang istri pemula ini. Rasa kepemilikan ya...

Rumah Tangga Muda - Episode 1: unlock basic skills

Bismillah.. Lama tak menyapa, saya sejujurnya kangen sekali menulis. Meminjam istilah yang dipopulerkan masgun, seorang tumblogger yang saya ikuti, saya ingin menulis sedikit hal yang masih relateable dengan kehidupan yang saya jalani sekarang. Tulisan ini adalah sedikit tentang kontemplasi selama saya menapaki episode-episode awal pernikahan. Sebuah refleksi tentang apa saja yang saya pelajari dan skill apa saja yang ingin terus saya latih dalam menjalankan rumah tangga yang insyaAllah seumur hidup ini. Pertama, manajemen waktu dan tenaga. Mencintai adalah kata kerja yang dalam implementasinya ternyata membutuhkan banyak sekali sumber daya. Baik itu waktu, tenaga, dan pikiran, materi, dll. Manajemen waktu yang baik akan membuatmu tetap bisa menjalankan semua kewajibanmu untuk masyarakat, pekerjaan, dan keluarga. Seringkali keluarga mendapatkan porsi terakhir dari waktu dan tenaga kita, padahal mengupayakan keluarga juga penting sebagaimana kita mengupayakan pekerjaan, karir, dan c...