Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Letter To Self

#6 Kelak

Dear myself, Belajarlah untuk menerima bahwa suatu saat akan ada yang masuk ke kehidupanmu, seseorang yang akan menempati ruang paling privasimu. Kelak, kamu harus membuang semua keraguan dan membiasakan diri dengan hal-hal baru. Kamu harus memperhitungkan kembali setiap rencanamu, karena rancanganmu kini tak hanya bergantung pada dirimu. Kamu bangun pagi bukan hanya untuk memikirkan dirimu saja. Cuaca di hatimu tak lagi bergantung pada musimmu saja. Setiap nuansa tak lagi bergantung pada rasamu saja. Kelak, kamu harus belajar berkompromi untuk hal-hal yang tidak kamu sukai, juga membiasakan diri untuk hal-hal sebelumnya tak terbiasa kamu hadapi. Kamu juga harus belajar mempercayakan segalamu pada orang lain. Kamu harus menerima bahwa segala hal harus dibagi. Kamu tak lagi menyimpan segalanya sendirian, setiap bahagia, sedih, khawatir, harap, bahkan marah dan kecewa akan bermuara pada satu tempat. Kelak, kamu harus terbiasa untuk menatap wajah yang sama setiap hari. Sampai kamu...

#5

Dear Ika, Beberapa waktu yang lalu, saya mengikuti sesi perkenalan dengan mahasiswa baru di departemen. Tidak terasa saya sudah menjadi senior :'). Selain perkenalan, salah satu sesi yang diikuti oleh mahasiswa baru adalah tips dan trik bertahan di IPB. Yang entah kenapa membuat saya justru merasa khawatir. Tiba-tiba saya teringat kamu, Ik. Saya khawatir para mahasiswa baru akan menjadi seperti kamu dulu. Yang mentalnya hanyalah mental pencari nilai. Yang mengukur keberhasilan dan kegagalan sesederhana dari tinggi rendahnya nilai. Saya mengingat kamu yang dulu, atau mungkin masih begitu juga sampai sekarang, saya melihat bagaimana usahamu di akhir-akhir masa kuliah. Bagaimana kamu berusaha memperbaiki IPK agar bisa mendapatkan beasiswa kuliah lanjut. Seolah hidupmu hanya tentang ambisi yang ingin kamu kejar. Saya sama sekali tidak meremehkan ambisi dan cita-cita. Karena hal-hal ini adalah sesuatu yang harus dimiliki manusia yang ingin hidup. Tanpa ambisi dan cita-cita, hidu...

#4 Tetaplah Bersangka baik

Bukan sekali dua kali kamu berhadapan dengan situasi yang terjadi diluar ekspektasi. Bukan sekali dua kali kamu dipaksa untuk mengalah pada keadaan. Saat semua keinginan bertekuk lutut pada satu pengharapan. Kenyataannya, belajar menerima keadaan bukanlah proses yang mudah. Ia menyakiti dengan cara yang tak sama. Seperti kecewa yang menganga tapi dipaksa menjadi biasa saja. Seperti pelupuk mata yang mendung, tapi bibir dipaksa mengulum senyum. Seperti hati yang telah remuk, tapi harus tetap berbentuk. Seperti raga yang sudah teramat lelah, tapi tak ada tempat untuk merebah. Namun perlu kau pahami, bahwa kecewa itu menguatkan, dan berdamai dengan keadaan itu membahagiakan. Yang kau perlukan hanyalah keyakinan bahwa segala yang benar diupayakan dengan kesungguhan, takkan pernah berakhir dengan kesiaan. Mungkin hasilnya tak sesuai harapan, tapi prosesnya mendewasakan. Menjadi hati yang pandai menerima kenyataan memang bukan hal yang mudah. Tapi keterbiasaanmu mengikhlas pada hasil y...

#3 Berakrab Dengan Masalah

Dear you. Hanya ingin mengingatkanmu: putus asa hanya dirasakan oleh orang-orang yang tak punya iman. Bukankah sebelumnya kau sudah pernah jatuh berkali-kali? Bukankah kau sudah terbiasa diremehkan? Bukankah kau sudah sering dipermalukan? Bukankah kau sudah akrab dengan penolakan? Bukankah kau sudah kenyang dengan kegagalan? Bukankah kau sudah hafal rasanya kecewa? Kau pernah berusaha melewati setiap detik dengan jiwa raga yang tak berhenti bergerak dan berpikir, dengan hasrat balas dendam melalui sebuah bentuk pembuktian, dengan air mata yang tak jarang jatuh entah karena frustasi atau lelah atau mungkin keduanya. Tapi lihatlah, setelah semua itu, tak ada yang tersisa pada dirimu kecuali keyakinan yang lebih kokoh, tekad yang lebih utuh, jiwa yang lebih kuat, hati yang lebih lebih tegar, dan pribadi yang lebih matang. Saat semuanya telah menjadi masa lalu, rasanya menjadi biasa-biasa saja. Lelahnya tak terasa lagi. Lukanya tak abadi. Hanya hikmahnya yang tetap disin...

#2 Tengoklah Hatimu

Dear Rafiqah Setiawaty Apa kabar hati? coba tengok sebentar. Mungkin kau tak menyadari, ada sesuatu di ruang rahasia yang hanya kau dan Tuhanmu yang tahu. Sesuatu yang kita sebut perasaan. Perasaan yang tak berjalan pada koridornya tersebab kau yang begitu pandai membuka hati tapi selalu ceroboh dalam menjaganya. Mungkin kau tak sadar, dinding hatimu sudah goyah. Tengoklah ia sesekali. Pada beberapa bingkai momen kau dengan tak sadar melemahkan pondasinya, membiarkan bebatuannya runtuh sedikit demi sedikit. Tengoklah sesekali, sudah sejauh mana kau merobohkan dinding yang susah payah kau bangun? Lalu adakah bibit-bibit yang sengaja atau tak sengaja tertanam dan bersemai di dalamnya? Tengoklah sesekali. Jangan sampai kau baru menyadarinya saat ia mulai tumbuh lalu mengusik dan menggerogoti hatimu. Kau tentu paham, hati begitu mudah goyah untuk sebuah rasa yang memang fitrah. Tapi kau juga selalu punya pilihan. Membuangnya jauh-jauh, atau membiarkannya tumbuh, bahkan memupuk dan m...

#1 Tetaplah Melangkah

Dear Rafiqah Setiawaty Apa kabar hari ini? Masihkah senyum itu merekah manis? Masihkan mimpi-mimpi itu membuatmu terjaga dari lelap? Jika iya, lalu ada apa dengan suara sumbang itu? Mengapa akhir-akhir ini selalu ada keluh yang keluar dari mulut yang sama dengan yang dulu pernah berjanji tak akan menyerah? Mari kita kembali ke masa lalu. Ingatlah pertama kali saat kau dengan tega menyesatkan langkahmu pada pilihan ini. Mencoba untuk keluar dari tempurung. Melihat lebih luas dan melangkah lebih jauh. Betapapun orang-orang menentangnya, kau tetap kukuh. Katamu dunia itu luas dan mimpimu terlalu berharga untuk dikorbankan. Ingatlah dirimu yang dengan semangat menyusun kepingan-kepingan mimpi menjadi utuh. Ingatlah harga yang sudah kau bayar demi setiap keping. Ada keringat, air mata dan doa yang tak pernah putus di situ. Dan yang lebih penting, ingatlah siapa yang harus kau tinggalkan demi menyusun kepingan-kepingan selanjutnya. Kepingan-kepingan itu memang masih san...