Langsung ke konten utama

Kelapangan Hati

Itu yang selalu saya minta sama Allah. Doa meminta kemudahan dalam setiap urusan, atau meminta jalan keluar untuk setiap masalah, perlahan berganti dengan doa meminta kekuatan untuk menghadapi setiap masalah, dan meminta kelapangan untuk menerima apapun hasil dari usaha saya.

Karena puncak dari segala usaha adalah keikhlasan, kerelaan, dan kelapangan untuk menerima apapun hasil yang didapatkan setelah perjuangan yang maksimal.

Dulu saat SMP saya gagal mewakili sekolah saya di ajang olimpiade, dulu peringkat saya pernah merosot sangat tajam, dulu saya gagal di Ujian Nasional SMA, sampai saya harus menahan malu untuk masuk sekolah lagi saat teman-teman lain mulai mempersiapkan ujian masuk universitas. Saya juga gagal masuk perguruan tinggi impian saya selepas SMA. Lalu saya gagal dua kali masuk pascasarjana ITB, saat semua teman-teman saya berhasil masuk universitas pilihan mereka. Saya menjadi satu-satunya yang gagal. Selain itu, masih banyak lagi kegagalan, kehilangan, perpisahan, patah hati dan hal-hal lain yang sangat menguras emosi.

Setiap kali perasaan saya remuk redam akibat kesedihan, kegalauan, atau apapun itu, saya selalu mencari cara untuk segera mengobatinya. Sangat tidak enak berada dalam ketidakbahagiaan (cita-cita saya adalah menjadi orang paling bahagia). Kemudian saya berpikir, kenapa tidak minta saja sama Allah, Dia kan memegang hati saya? Dia Maha membolak-balik hati. Lalu saya sisipkan doa-doa sederhana di setiap waktu-waktu mustajab. Meminta untuk diberikan hati seluas samudera, selapang langit, sekokoh karang. Agar tak peduli betapapun berat bebannya, pundak saya akan tetap kuat menopang.

Dulu saya terbiasa melampiaskan semuanya dengan menangis. sampai lelah, sampai lega. Sekarang saya lebih memilih mengadu sama Allah (sambil nangis juga wkwk :D), minta ampun, dan minta diberi kesabaran. Bukannya sok-sok alim atau apalah, tapi memang begitu adanya. Saya punya Allah sebagai penolong, tempat mengadu, dan saya punya doa sebagai senjata ampuh.
Cara lain adalah dengan bersosialisasi. bertemu dengan teman-teman, berbincang-bincang tentang  apapun. Jika kamu berbincang dengan orang yang tepat, bisa jadi kamu akan mendapatkan solusi atau paling tidak penenang hati. Sebagai seseorang yang pergaulannya hanya di situ-situ saja, teman-teman saya pun tak begitu beragam, hanya teman kuliah dan teman dari beberapa organisasi pernah yang saya geluti. Tapi beberapa diantara mereka seperti dikirim Allah sebagai penghibur jiwa.

Selain itu, bisa juga dengan tersenyum. Berdiri di depan cermin, lalu paksa bibirmu untuk senyum. Dan bilang pada bayanganmu, 'kamu berharga, kamu bukan kegagalan, kamu bisa, kamu harus berusaha lebih keras' atau apapun kata-kata yang memotivasi. (trust me, it works!)

Lalu yang terakhir, adalah cara yang baru-baru ini saya temukan untuk menghadapi stres (haha!). Kerja, bergerak, lakukan sesuatu. Saya memilih untuk mencuci baju, menyikat kamar mandi, atau mengepel kamar. Besok saya berencana melakukan itu semua. Kemungkinan besar nilai semester ini yang akan diumumkan besok akan jauh dari ekspektasi. Jadi hati perlu disiapkan. Berdoa banyak-banyak sama Allah. Semoga besok diberi kekuatan melihat nilai semester ini yang anjlok.

Dan entah kenapa postingan jadi seperti tips untuk mengatasi kegalauan. By the way, saya sering mengalami kesedihan yang penyebabnya tidak jelas, dan saya selalu menyalahkan PMS atau hormon yang tidak seimbang (entah apa maksudnya ini). Padahal memang karena hati saya yang sempit, banyak dosa, kurang istighfar, kurang dzikir. Jadi, sebagai penutup, ini saya bagikan link tentang mengobati kesempitan hati. InsyaAllah ampuh :)

Jika diuji dengan masalah, beberapa orang terlarut dalam masalahnya, sementara yang lain fokus pada cara menyelesaikan masalah. Jika diuji dengan kesedihan, beberapa orang tenggelam pada kesedihan, sementara yang lain fokus pada cara mengobati kesedihan. 

Bogor, Januari 2017.
Seseorang yang masih berlatih untuk sabar dan ikhlas.
Di sudut kamar, sedang mempersiapkan hati menghadapi hari esok. Semoga tetap tangguh! :D


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadhan

 Walaupun masih banyak sekali kekurangan, Ramadhan tahun ini ternyata merupakan salah satu Ramadhan terbaik yang bisa saya jalani. Anak yang sudah lebih besar dan mandiri, jarak tempat tinggal dan kantor yang hanya 5 langkah, dan jam kerja yang lebih fleksibel, mungkin adalah beberapa hal yang membuat Ramadhan kali ini terasa lebih khidmat. Ramadhan-ramadhan sebelumnya sebagai ibu hamil, menyusui, ibu dengan bayi menuju toddler, jam kerja yang masih padat, membuat saya kewalahan dalam mengatur ibadah. Puasa jelas banyak yang ketinggalan. Sholat sunnah sebisanya saja, yang penting sholat wajib tidak ketinggalan. Sholat tarawih dan Qur'an? Selalu diusahakan sebisanya. Duo ibadah primadona di bulan Ramadhan ini harus diikhlaskan karena masih sering ketempelan bocil. Meskipun kadang merasa sedih karena Ramadhan selalu menjadi waktu istimewa untuk umat Muslim, nyatanya saya hanya bisa melaluinya dengan ibadah 'alakadarnya'. Lalu saya bertemu dengan sebuah nasihat dari ukhti fill...

31

 Kebetulan kemarin baru ulang tahun yang ke 31 bareng suami, dan kami merayakannya di UGD Rumah Sakit :))) Alhamdulillah ala kulli haal Dalam sebulan belakangan ada cukup banyak pemicu stress yang bikin saya cukup kewalahan. Tapi selama saya bisa punya waktu tidur malam yang cukup, maka saya baik-baik saja. 2 diantara stressor tersebut adalah berita duka yang begitu mendadak. Sebagai sesorang yang takut kehilangan, dada saya sesak setiap kali mengingat kejadiannya. Salah satu keluarga yang kami sayangi berpulang, begitu cepat. Semakin memahamkan saya bahwa kematian itu begitu dekat. Bahwa hidup kita cuma sebentar saja di dunia. Setiap kali ada berita duka, selain mendoakan almarhum, saya juga berdoa semoga Allah memberi kelapangan untuk keluarga yang ditinggalkan, karena memang sesakit itu merasakan perubahan yang mendadak, butuh waktu cukup lama untuk membiasakan diri dengan ketiadaan seseorang. Saya pun berdoa jika kelak orang tua saya yang dipanggil duluan, hati saya diberi kela...

After They Left

I used to like to be alone. I can do anything I want without worrying about others. I always enjoy my me-time. I like to go to anywhere with myself because going with others will make me be depending on them. I liked to explore new places with myself. Yes, my self is enough for my company. I enjoyed being with my own. I liked to stay at my room for hours (with bunch of snacks, good movies, good dramas, good books). I didn't need any internet connection, I never touched my phone, and the door and window were always closed. Yes, I really enjoyed that. Sometimes, I went to the public space just with my own. Looking at the people, taking picture, doing silly things, alone. Sometimes I just went around the city by motorcycle with no direction. Alone. Sometimes I spent hours in bookstore (Being surrounded by books is my mood booster). Alone. No, I'm not an introvert. Ask my close friends or family, they know me really well. I just feel comfortable with my own company. I have m...