Langsung ke konten utama

Anggapan

Kadang dari jauh, semuanya terlihat mengagumkan. Dari dekat, semuanya terlihat baik-baik saja. Sampai kita masuk kedalam dan akhirnya menyadari,  tidak semua hal sesuai dengan ekspektasi kita. Ada hal-hal baik dan buruk yang hanya bisa dilihat saat kamu mengenal lebih dalam.

Contoh sederhanya sih anggapan-anggapan orang ke saya.
Saya pribadi lebih mudah meng-handle ekspektasi buruk daripada ekspektasi baik. Untuk anggapan-anggapan buruk di luar sana tentang saya, yang bisa saya lakukan hanyalah terus memperbaiki diri. Bukan untuk membuktikan bahwa mereka salah, bukan juga untuk menunjukkan kalau saya baik, tapi emang karena manusia pada dasarnya menginginkan kebaikan dan berusaha untuk terus mencari jalan menuju kesana.

Sebaliknya, ekspektasi baik kadang bisa bikin beban di hati. Padahal hidup aja udah cukup berat bebannya xD.

Misalnya orang-orang yang sering menganggap saya pintar karena kuliah di jurusan matematika dan pake beasiswa pemerintah pula. Padahal saya justru sering stres karena ngerasa salah masuk jurusan xD. Dan masalah beasiswa, walaupun memang beasiswa ini cukup terkenal dan selektif, saya masih merasa kalau ini hanya masalah rezeki, bukan karena saya pintar atau mampu, tapi emang Allah menakdirkan saya untuk dapat rezeki dari jalan ini.

Dulu juga ada teman bilang dia kagum karena jilbab saya udah terulur.  Dia nggak tahu gimana susahnya untuk tetap istiqamah, untuk tetap bisa memegang prinsip tapi terlihat longgar di luar. Sampai sekarangpun saya rela melewati macet, panas atau hujannya kota Bogor demi bisa ikut tarbiyah yang kadang cuma satu jam. Untuk mengisi lagi iman yang lebih sering turun daripada naik. Untuk mengisi lagi hati yang udah terlalu berat dengan dunia.

Mama saya pernah bilang juga, Ika kan udah tarbiyah, berarti nanti udah bisa ngisi kajian disini ya. Padahal saya selalu ngerasa bodoh melihat buku catatan kajian saya yang isinya nggak ada yang nempel di kepala.

Anggapan-anggapan seperti itu yang sering bikin saya ngerasa ketampar-tampar dan malu. Mereka pikir saya baik padahal dibalik itu saya menyimpan banyak kekhawatiran. Takut membuat mereka kecewa, takut dicemooh saat ternyata saya tidak sesuai dengan anggapan mereka. Walaupun nggak semua orang seperti itu. Karena biar gimanapun, setelah kenal dekat orang-orang akan melihat kekurangan saya xD.

Pernah ada teman yang bilang ke saya: aku pikir orang jilbaban macam kamu gini pembawaannya dewasa, kalem, dan isi omongannya agama semua, mbak. Gubrak! Wkwk xD. Dia secara nggak langsung bilang, kamu itu mbak, jilbabnya gini tapi kok tingkahnya gitu, banyak omong dan nggak berfaedah pula omongannya xD wkwk.

Jadi bahan introspeksi aja kalo gitu xD

Saya jadi mikir gimana dengan public figure yang banyak diidolakan. Pasti berat rasanya memikul ekspektasi dan anggapan orang-orang yang mengidolakan mereka.

Kadang orang-orang begitu mengidolakan para qari, hafidzh, atau ustadz, sampai lupa menyisakan ruang bagi mereka sebagai manusia biasa yang rentan khilaf. Kadang prestasi atau ilmunya membuat kita silau hingga saat mereka melakukan kesalahan, kita kecewa bahkan sampai menghujat. Padahal itu sebenarnya karena mereka hanya manusia biasa yang kita lebihkan dengan ekspektasi-ekspektasi kita.

Begitu pula dengan pemimpin-pemimpin yang dulunya adalah kesayangan publik, sekarang malah tak sedikit yang suka nyinyirin xD. Mungkin saya salah satunya yang sering kecewa. Wajar sih karena pemimpin ya tumpuan harapan rakyat yang memang dibebani dengan amanah. Hanya saja kita perlu pahami bahwa pemimpin juga butuh ruang nasihat.

Pada akhirnya sih, tidak ada yang lebih pantas diidolakan kecuali Rasulullah. Tidak ada manusia yang lebih baik dari beliau dari segi apapun. Yang akhlak baiknya diakui bukan hanya oleh kawan tapi juga lawan. Seorang pemimpin yang atas pertolongan Allah, berhasil membangun sebuah peradaban yang bertahan begitu lama. Mengubah sebuah tatanan masyarakat yang kerusakannya hampir di semua aspek, menjadi sebuah tatanan baru yang beradab dan berakhlak mulia.

Kalau idola jaman now, tak perlu kita beri label atau berekspektasi macam-macam. Kagumi sewajarnya, dan tetap sisakan ruang pemakluman jika kita mengetahui kekurangan mereka, dan sediakan pintu maaf saat mereka melakukan kesalahan.

Dan saya juga berharap orang-orang tidak melihat saya dengan anggapan tertentu. Karena saya tidak sebaik yang kalian pikirkan, pun tidak seburuk yang kalian bayangkan.

Saya hanya remahan nastar di dasar toples kue pasca lebaran xD

Sekian dan terima traktiran.




-Ika, si remahan nastar-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadhan

 Walaupun masih banyak sekali kekurangan, Ramadhan tahun ini ternyata merupakan salah satu Ramadhan terbaik yang bisa saya jalani. Anak yang sudah lebih besar dan mandiri, jarak tempat tinggal dan kantor yang hanya 5 langkah, dan jam kerja yang lebih fleksibel, mungkin adalah beberapa hal yang membuat Ramadhan kali ini terasa lebih khidmat. Ramadhan-ramadhan sebelumnya sebagai ibu hamil, menyusui, ibu dengan bayi menuju toddler, jam kerja yang masih padat, membuat saya kewalahan dalam mengatur ibadah. Puasa jelas banyak yang ketinggalan. Sholat sunnah sebisanya saja, yang penting sholat wajib tidak ketinggalan. Sholat tarawih dan Qur'an? Selalu diusahakan sebisanya. Duo ibadah primadona di bulan Ramadhan ini harus diikhlaskan karena masih sering ketempelan bocil. Meskipun kadang merasa sedih karena Ramadhan selalu menjadi waktu istimewa untuk umat Muslim, nyatanya saya hanya bisa melaluinya dengan ibadah 'alakadarnya'. Lalu saya bertemu dengan sebuah nasihat dari ukhti fill...

31

 Kebetulan kemarin baru ulang tahun yang ke 31 bareng suami, dan kami merayakannya di UGD Rumah Sakit :))) Alhamdulillah ala kulli haal Dalam sebulan belakangan ada cukup banyak pemicu stress yang bikin saya cukup kewalahan. Tapi selama saya bisa punya waktu tidur malam yang cukup, maka saya baik-baik saja. 2 diantara stressor tersebut adalah berita duka yang begitu mendadak. Sebagai sesorang yang takut kehilangan, dada saya sesak setiap kali mengingat kejadiannya. Salah satu keluarga yang kami sayangi berpulang, begitu cepat. Semakin memahamkan saya bahwa kematian itu begitu dekat. Bahwa hidup kita cuma sebentar saja di dunia. Setiap kali ada berita duka, selain mendoakan almarhum, saya juga berdoa semoga Allah memberi kelapangan untuk keluarga yang ditinggalkan, karena memang sesakit itu merasakan perubahan yang mendadak, butuh waktu cukup lama untuk membiasakan diri dengan ketiadaan seseorang. Saya pun berdoa jika kelak orang tua saya yang dipanggil duluan, hati saya diberi kela...

After They Left

I used to like to be alone. I can do anything I want without worrying about others. I always enjoy my me-time. I like to go to anywhere with myself because going with others will make me be depending on them. I liked to explore new places with myself. Yes, my self is enough for my company. I enjoyed being with my own. I liked to stay at my room for hours (with bunch of snacks, good movies, good dramas, good books). I didn't need any internet connection, I never touched my phone, and the door and window were always closed. Yes, I really enjoyed that. Sometimes, I went to the public space just with my own. Looking at the people, taking picture, doing silly things, alone. Sometimes I just went around the city by motorcycle with no direction. Alone. Sometimes I spent hours in bookstore (Being surrounded by books is my mood booster). Alone. No, I'm not an introvert. Ask my close friends or family, they know me really well. I just feel comfortable with my own company. I have m...