Langsung ke konten utama

Memahami

Kita hidup di lingkungan yang heterogen dimana pergaulan kita sangat kaya dengan keragaman. Entah itu keragaman agama, suku, budaya, sikap, sifat, watak, dan kebiasaan. Semakin kita mengenal banyak orang, semakin kita sering berinteraksi dengan orang-orang yang berbeda, semestinya ruang pemahaman kita semakin terbuka lebar. Pun ruang pemakluman atas apa yang tidak sesuai dengan kebiasaan kita.

Dalam pertemanan, hal yang paling dituntut adalah sikap saling memahami, kompromi, introspeksi, dan saling terbuka. Memahami bahwa setiap manusia punya kekurangan, punya masalah masing-masing, punya kebiasaan masing-masing, dan hal-hal lain yang menuntut kita untuk selalu berkompromi. Artinya ada hal-hal yang mau tidak mau harus disesuaikan dan dicocokkan. Dan introspeksi juga penting agar kita tidak selalu menuntut untuk dipahami. Bisa jadi kitalah yang berada diposisi yang salah dan harus memahami keadaan orang lain. Saling terbuka juga penting karena bisa meminimalisir peluang kesalahpahaman. Jangan pikir orang lain itu dukun yang bisa baca pikiran kita. Kalau ada hal yang seharusnya dibicarakan, bicarakan. Jangan pendam sendiri dan ujung-ujungnya malah bikin teman kita bingung dan tidak nyaman.

Sering terjadi di whatsapp, jika ada teman yang terlambat membalas pesan, kita langsung berpikir kalau dia tidak memprioritaskan pesan kita, atau saat pesan kita dibalas seadanya, berarti dia cuek atau sedang marah, padahal kita tidak tahu apa yang sedang dia alami atau lakukan saat itu. Yang harus didahulukan adalah berprasangka baik. Oh mungkin dia lagi sibuk, oh sepertinya dia lagi fokus ngerjain sesuatu, dll.

Di kehidupan sehari-hari juga kadang terjadi seperti itu. Saat bertemu dengan teman tapi mukanya jutek atau tidak bersemangat. Kadang cuma senyum seadanya dan menolak untuk diajak ngobrol. Kita harus bisa memahami bahwa tidak semua orang bisa tetap pasang muka baik-baik saja saat capek atau ada masalah. Jangan langsung menganggap bahwa dia tidak mau bicara dengan kita lagi.

Kata Mama saya, setelah menikah nanti kita akan lebih sering dihadapkan dengan hal-hal yang menuntut pemahaman lebih. Menuntut untuk lebih sering berkompromi. Karena itu untuk hal ini kita seharusnya sudah selesai saat sebelum menikah. Karena setelah menikah banyak hal yang harus dipikirkan, tanggung jawab juga semakin banyak jadi kita harus sudah selesai dengan urusan-urusan macam begini. Saya sudah sering melihat bagaimana Mama saya berusaha memahami dan berkompromi dengan sifat dan tingkah laku Papa saya, juga sebaliknya. Kadang lucu juga kalau mereka masing-masing curhat ke saya xD.

Ini baru urusan pribadi, belum urusan profesional. Contohnya saat kita terlibat pekerjaan dengan teman kita. Kita harus lebih bisa memilah antara urusan pribadi dan pekerjaan. Misalnya saat kita ditegur karena pekerjaan kita kurang memuaskan, bukan berarti kita mesti ngambekan dalam pertemanan kan? Dulu saya pernah ditegur sama teman karena terlalu sibuk kuliah sehingga banyak amanah saya yang terabaikan. Saat itu dia koordinator bidang dan saya anggotanya. Saya dituntut untuk memahami masalah prioritas. Saya sempat kesal karena dalam benak saya, dia yang tidak paham dengan keadaan saya saat itu. Tapi saya tetap manut dan diluar itu kita bisa tetap saling haha-hihi.

Jadi, dalam pertemanan, yang penting adalah bagaimana kita memaklumi, berusaha meluruskan jika teman kita salah, dan berusaha berlapang dada saat ternyata kita yang perlu diluruskan.

Jangan terlalu sering bawa perasaan. Perempuan memang kadang lebih sensitif. Tapi sensitifnya perempuan sebaiknya diarahkan ke hal-hal yang lebih bermanfaat. Peka terhadap sekitar misalnya, sensitif terhadap masalah teman, cepat tanggap jika ada yang membutuhkan bantuan, dll. Marah pun seharusnya pada hal yang lebih bermakna. Marah melihat kedzaliman misalnya, marah melihat ketidak-adilan, marah melihat teman kita disakiti, dll. Bukan malah marah jika ada yang melanggar urusan kita. Karena kadang orang sebenarnya tidak sedang mengusik, kitanya saja yang terlalu sensitif. Peace xD.


-Ika, yang sedang menasihati diri sendiri.

Bersambung ke part 2 insyaaAllah xD

Komentar

Anonim mengatakan…
Apakah kita tak bisa ego dengan hal hal yg kita yakini kebenarannya??

#JustTanya

Postingan populer dari blog ini

Ramadhan

 Walaupun masih banyak sekali kekurangan, Ramadhan tahun ini ternyata merupakan salah satu Ramadhan terbaik yang bisa saya jalani. Anak yang sudah lebih besar dan mandiri, jarak tempat tinggal dan kantor yang hanya 5 langkah, dan jam kerja yang lebih fleksibel, mungkin adalah beberapa hal yang membuat Ramadhan kali ini terasa lebih khidmat. Ramadhan-ramadhan sebelumnya sebagai ibu hamil, menyusui, ibu dengan bayi menuju toddler, jam kerja yang masih padat, membuat saya kewalahan dalam mengatur ibadah. Puasa jelas banyak yang ketinggalan. Sholat sunnah sebisanya saja, yang penting sholat wajib tidak ketinggalan. Sholat tarawih dan Qur'an? Selalu diusahakan sebisanya. Duo ibadah primadona di bulan Ramadhan ini harus diikhlaskan karena masih sering ketempelan bocil. Meskipun kadang merasa sedih karena Ramadhan selalu menjadi waktu istimewa untuk umat Muslim, nyatanya saya hanya bisa melaluinya dengan ibadah 'alakadarnya'. Lalu saya bertemu dengan sebuah nasihat dari ukhti fill...

31

 Kebetulan kemarin baru ulang tahun yang ke 31 bareng suami, dan kami merayakannya di UGD Rumah Sakit :))) Alhamdulillah ala kulli haal Dalam sebulan belakangan ada cukup banyak pemicu stress yang bikin saya cukup kewalahan. Tapi selama saya bisa punya waktu tidur malam yang cukup, maka saya baik-baik saja. 2 diantara stressor tersebut adalah berita duka yang begitu mendadak. Sebagai sesorang yang takut kehilangan, dada saya sesak setiap kali mengingat kejadiannya. Salah satu keluarga yang kami sayangi berpulang, begitu cepat. Semakin memahamkan saya bahwa kematian itu begitu dekat. Bahwa hidup kita cuma sebentar saja di dunia. Setiap kali ada berita duka, selain mendoakan almarhum, saya juga berdoa semoga Allah memberi kelapangan untuk keluarga yang ditinggalkan, karena memang sesakit itu merasakan perubahan yang mendadak, butuh waktu cukup lama untuk membiasakan diri dengan ketiadaan seseorang. Saya pun berdoa jika kelak orang tua saya yang dipanggil duluan, hati saya diberi kela...

After They Left

I used to like to be alone. I can do anything I want without worrying about others. I always enjoy my me-time. I like to go to anywhere with myself because going with others will make me be depending on them. I liked to explore new places with myself. Yes, my self is enough for my company. I enjoyed being with my own. I liked to stay at my room for hours (with bunch of snacks, good movies, good dramas, good books). I didn't need any internet connection, I never touched my phone, and the door and window were always closed. Yes, I really enjoyed that. Sometimes, I went to the public space just with my own. Looking at the people, taking picture, doing silly things, alone. Sometimes I just went around the city by motorcycle with no direction. Alone. Sometimes I spent hours in bookstore (Being surrounded by books is my mood booster). Alone. No, I'm not an introvert. Ask my close friends or family, they know me really well. I just feel comfortable with my own company. I have m...