Langsung ke konten utama

Postingan

Sampah pikiran 140717

Beberapa waktu lalu saya sempat 'menyembunyikan' blog ini dengan mengubah pengaturan public ke private, artinya hanya saya yang bisa melihat blog ini. Ini karena saya merasa canggung blog saya dibaca orang. Lalu ada yang bertanya, kenapa menulis di blog kalau tidak ingin dibaca orang? Pertama, kenapa menulis? Karena saya menyukai kata-kata dan diksi, karena saya ingin berkarya lewat tulisan. Karena saya tipe orang yang tidak bisa bicara di depan umum. karena saya susah mengekspresikan isi kepala dengan berbicara. Karena tangan saya akan berkeringat hebat dan dingin seperti es saat harus berbicara tentang hal-hal serius di depan orang. Intinya, saya tidak pandai dalam bertutur lewat lisan. Dan tulisan adalah media saya dalam mengekspresikan diri. (Ini lebay sebenarnya wkwk xD) Kenapa harus di blog? Sejujurnya, biar keren! Haha! Saya memulai blog ini sejak tahun 2011 dan tulisan saya beragam, alay, dan berubah-ubah sesuai dengan bacaan saya saat itu. Tapi pada akhirnya bl...

Perempuan Seutuhnya

Sebenarnya tulisan sebelumnya itu mau menjelaskan tentang kedudukan perempuan dan laki-laki yang memiliki fitrah masing-masing, yang tidak bisa disamakan. Tapi seperti biasa, saya menulis karena hal tersebut punya kaitan dengan kehidupan saya. Jadi tulisan ini merupakan sambungan dari tulisan sebelumnya, yang walaupun mungkin agak tidak nyambung, tapi silakan dicari sendiri benang merahnya. Jadi sudah kurang lebih setahun saya menempuh pendidikan magister saya. Beberapa orang kadang mempertanyakan tujuan saya menempuh pendidikan tinggi. Walaupun sekarang perempuan yang bertitel master, doktor atau profesor itu sudah biasa, tapi masih ada beberapa yang menganggap bahwa perempuan tidak perlu terlalu memikirkan masalah pendidikan tinggi karena tempat akhirnya adalah rumah dan dapur. Tidak perlu bertitel panjang karena nanti akan susah dapat jodoh. Tidak perlu kerja di luar karena tugasnya adalah melayani suami dan mendidik anak. Iya, saya paham. Tapi yang perlu diluruskan disini ada...

Sesuai Pada Tempatnya

Awalnya mau dikasih judul Islam dan feminisme, eits tapi rasanya kok berat banget ya? apalagi pengetahuan saya masalah itu masih dangkal sekali. Tapi saya hanya ingin menulis apa yang saya ketahui. Kita mengenal feminisme sebagai suatu gerakan yang mendukung penyetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam berbagai bidang. Seperti yang kita tahu, lahirnya feminisme, atau isme-isme yang lain, sebenarnya karena masalah yang muncul di tengah masyarakat.Gerakan ini lahir di Eropa karena dulu perempuan dianggap sebagai kaum inferior dan tidak memiliki hak yang setara dengan kaum laki-laki. Padahal kalau kita mau berbangga, jauh sebelum feminisme lahir, Islam sudah lebih dulu datang dan memuliakan perempuan. Kita ketahui dalam sejarah Arab jahiliyah, perempuan sangat dibenci dan direndahkan, sampai Islam hadir dan menghapus semua diskriminasi atas gender dan status sosial. Semua manusia sama di mata Allah, yang membedakan hanya tingkat ketakwaannya. Yang mengherankan adalah banyak yang...

Kepercayaan Diri

Kepercayaan diri sering dikaitkan dengan fisik, status sosial, dan persepsi orang lain terhadap kita. Menurut saya ini adalah hal yang sebenarnya bisa kita hadapi dengan cara memerdekakan pikiran dan hati kita dari anggapan-anggapan tidak penting. Anggapan bahwa fisik rupawan akan lebih disukai orang-orang, anggapan bahwa status sosial yang tinggi akan lebih dihormati, anggapan bahwa otak yang cerdas akan lebih disenangi, dan anggapan-anggapan lain yang lahir dari kedangkalan kita dalam berpikir dan menghargai sesuatu. Kita terlalu memikirkan penilaian orang terhadap kita, padahal kita yang lebih tau diri kita, nilai, kapasitas dan kemampuan kita. Penilaian orang tidak pernah benar-benar mewakili kita yang sebenarnya. Penilaian buruk orang terhadap kita, jika benar, maka anggap saja itu sebagai sebuah kritik agar kita bisa introspeksi, dan jika salah, anggap saja dia tidak benar-benar mengenal kita. Sebenarnya ada orang-orang yang sudah selesai dengan perkara-perkara di atas, tapi ma...

A Beauty

I'm not a beauty blogger, and this blog is not a beauty blog, obviously. But as a woman, I really want to share my opinion about beauty. As you know, beauty is something that woman really put much effort to get. The definition of beauty is not always the same to every person. It depends on what values ones hold. But in general, our people define beauty as 'good looking'. Moreover, media has succesfully educate us that beauty is having a white skin, a small face, a sharp chin, thick eyebrows, and this and that. What funny is that definition always change time to time. Therefore you need to set your own standard of beauty. I'm 24 now and I don't like make up. I love my bare face. I only use daily defense cream for the sake of sun protection, and little bit lip balm because I have a very very dry lip. I use lipstick once in a while but trust me, I look weird using it. But just for your information, I like to take care of my skin. My mother once said, ' all yo...

Enjoy an offline moment

It never ceases to amaze me to see what technology can do nowadays. Flash back to my childhood, when my father worked abroad, in somewhere far away, the only thing that always made us keep in touch was a telephone in a place named wartel . Every two weeks my mother, my brother and I went to wartel to have a talk with my father. Unluckily, we couldn’t talk too long because it was an international call which cost very expensive. My mother said that before I was born, the communication between my father and her was even worse, by mail. Was it hard? Well, compare to the days we live now, it could be very hard. Okay, lets talk about the situation now. I think we don't need any explanation about communication and information   technology these days. We live in smartphone era where internet is an essential part of life. There are so many messenger application to communicate easily with everyone around the world. There is no longer separation between each country and even continent....

Kekhawatiran untuk bertumbuh

Tepat hari ini saya berusia dua empat. Beberapa doa masuk inbox saya, yang tentu saja saya amini satu-satu. Sebenarnya sudah lama saya berhenti mengistimewakan hari ulang tahun. Tak jarang hari ini berlalu seperti biasa. Hanya saja yang membuat saya begitu terperangah adalah fakta bahwa besok hari saya mulai menuju seperempat abad. Seakan tidak percaya bahwa saya sudah berada di tahap ini. Saat masyarakat dan keluarga mulai melihat saya sebagai sosok yang cukup dewasa, saya masih merasa seperti saya yang dulu, tak ada yang berubah, saya masih dengan sikap dan sifat yang kekanakan. Melihat lagi beberapa tahun ke belakang. Di tahun terakhir saya di SMA, sahabat saya berkata: "saya tidak bisa membayangkan kamu berada di bangku kuliah, kuliah hanya untuk orang-orang dewasa." Saya pun merasa seperti itu, saya belum cukup dewasa untuk itu. Saat sepupu sekaligus sahabat saya mulai menikah dan membangun keluarga kecilnya, saat teman-teman mulai mengirimkan undangan pernikahan a...