Langsung ke konten utama

Postingan

Anggapan

Kadang dari jauh, semuanya terlihat mengagumkan. Dari dekat, semuanya terlihat baik-baik saja. Sampai kita masuk kedalam dan akhirnya menyadari,  tidak semua hal sesuai dengan ekspektasi kita. Ada hal-hal baik dan buruk yang hanya bisa dilihat saat kamu mengenal lebih dalam. Contoh sederhanya sih anggapan-anggapan orang ke saya. Saya pribadi lebih mudah meng-handle ekspektasi buruk daripada ekspektasi baik. Untuk anggapan-anggapan buruk di luar sana tentang saya, yang bisa saya lakukan hanyalah terus memperbaiki diri. Bukan untuk membuktikan bahwa mereka salah, bukan juga untuk menunjukkan kalau saya baik, tapi emang karena manusia pada dasarnya menginginkan kebaikan dan berusaha untuk terus mencari jalan menuju kesana. Sebaliknya, ekspektasi baik kadang bisa bikin beban di hati. Padahal hidup aja udah cukup berat bebannya xD. Misalnya orang-orang yang sering menganggap saya pintar karena kuliah di jurusan matematika dan pake beasiswa pemerintah pula. Padahal saya justru ser...

Memahami

Kita hidup di lingkungan yang heterogen dimana pergaulan kita sangat kaya dengan keragaman. Entah itu keragaman agama, suku, budaya, sikap, sifat, watak, dan kebiasaan. Semakin kita mengenal banyak orang, semakin kita sering berinteraksi dengan orang-orang yang berbeda, semestinya ruang pemahaman kita semakin terbuka lebar. Pun ruang pemakluman atas apa yang tidak sesuai dengan kebiasaan kita. Dalam pertemanan, hal yang paling dituntut adalah sikap saling memahami, kompromi, introspeksi, dan saling terbuka. Memahami bahwa setiap manusia punya kekurangan, punya masalah masing-masing, punya kebiasaan masing-masing, dan hal-hal lain yang menuntut kita untuk selalu berkompromi. Artinya ada hal-hal yang mau tidak mau harus disesuaikan dan dicocokkan. Dan introspeksi juga penting agar kita tidak selalu menuntut untuk dipahami. Bisa jadi kitalah yang berada diposisi yang salah dan harus memahami keadaan orang lain. Saling terbuka juga penting karena bisa meminimalisir peluang kesalahpahaman...

Perempuan dan Kosmetik

Ceritanya dulu waktu kecil saya suka mandi laut di siang bolong. Alhasil kulit saya jadi coklat mengkilat macam monyet. Akhirnya mama saya jadi rajin lulurin saya dan pas SMP saya udah terbiasa pakai pelembab. Saya sebenarnya lebih suka merawat daripada memoles. Mama saya juga selalu bilang kalau perempuan cantik itu bukan karena make-up tapi hati yang cantik dan kulit yang sehat. Karena itulah saya lebih memilih skincare daripada kosmetik yang bersifat dekoratif seperti make-up. Itupun yang standar-standar aja. Pembersih dan pelembab. Kenal skincare yang macam-macam pas udah kuliah S2. Pakai daily defense cream atau bahasa kerennya DD cream untuk sun protection, sama lip balm karena bibir saya super kering. Dulu saya malas pakai lipbalm, jadi tidak bisa lama-lama di ruang ber-AC karena bibirnya retak dan berdarah kalau senyum xD. Saya tidak sedang mengajak para ladies untuk bertabarruj ya. Nggak kok. Saya suka dengan penampilan apa adanya. Hanya saja memakai krim-krim di wajah seb...

Mereka

Ada dua pasang mata yang seolah menatapku teduh melalui gambar di layar ponsel. Di lebih dari setengah abadnya mereka, dan seperempat abadnya diriku, lamunanku melayang ke masa depan. Membayangkan kelak aku akan mencintai seorang laki-laki, sedalam cintaku pada mereka. Membayangkan kelak aku akan berbakti pada seorang laki-laki, sepenuh baktiku pada mereka. Semoga, sejatuh-jatuh cintanya aku pada seorang laki-laki kelak, cintaku pada mereka akan tetap utuh. /rs/

#5

Dear Ika, Beberapa waktu yang lalu, saya mengikuti sesi perkenalan dengan mahasiswa baru di departemen. Tidak terasa saya sudah menjadi senior :'). Selain perkenalan, salah satu sesi yang diikuti oleh mahasiswa baru adalah tips dan trik bertahan di IPB. Yang entah kenapa membuat saya justru merasa khawatir. Tiba-tiba saya teringat kamu, Ik. Saya khawatir para mahasiswa baru akan menjadi seperti kamu dulu. Yang mentalnya hanyalah mental pencari nilai. Yang mengukur keberhasilan dan kegagalan sesederhana dari tinggi rendahnya nilai. Saya mengingat kamu yang dulu, atau mungkin masih begitu juga sampai sekarang, saya melihat bagaimana usahamu di akhir-akhir masa kuliah. Bagaimana kamu berusaha memperbaiki IPK agar bisa mendapatkan beasiswa kuliah lanjut. Seolah hidupmu hanya tentang ambisi yang ingin kamu kejar. Saya sama sekali tidak meremehkan ambisi dan cita-cita. Karena hal-hal ini adalah sesuatu yang harus dimiliki manusia yang ingin hidup. Tanpa ambisi dan cita-cita, hidu...

Rumah

Sebuah catatan kecil selepas liburan. Saya benar-benar menikmati liburan saya kali ini. Berdiam di rumah adalah sesuatu yang sangat berharga. Beberapa kali saya mengantar mama saya kesana kemari, sesekali saya menengok ponakan yang lucunya minta ampun, sesekali juga pergi mencari sinyal >,<. Selebihnya, saya menikmati waktu di rumah. Kamar mama saya lebih tepatnya. Beberapa target liburan saya tercapai, beberapa tidak. Susah sekali untuk disiplin pada komitmen saat berada di zona nyaman. Walaupun begitu, saya cukup senang bisa menyelesaikan beberapa. Saya juga senang bisa mengajar anak-anak di sekitar rumah mengaji setiap malam. Saya merasa sedikit bermanfaat. Saya senang bisa mendengarkan curhat Mama. Saya senang akhirnya bisa menggendong ponakan baru saya, setelah 6 bulan hanya bisa melihatnya dari gambar. Saya senang bisa melupakan semua kekhawatiran sejenak. Saya juga tetap mengaktifkan internet di ponsel, untuk sekedar tetap terhubung dengan teman-teman. Sesekali siny...

Sampah pikiran: Depresi dan menumbuhkan empati

Ada thread menarik di milis awardee beberapa waktu lalu. Tentang isu mental health yang dialami sebagian awardee luar negeri dan dalam negeri. Baru kali ini saya benar-benar mengikuti diskusi dalam milis. Seorang awardee menceritakan bagaimana pengalamannya melewati depresi dan percobaan bunuh diri. setelah mengikuti diskusi dan membaca blognya, ternyata banyak orang yang pernah mengalami mental health disorder ini. Mulai dari bipolar, depresi sampai ingin bunuh diri. Ada juga yang mengalami gejala bipolar akibat trauma bullying masa kecil. To be brutally honest, saya dulunya memandang sebelah mata para penderita penyakit mental ini. Entah kenapa bagi saya mereka yang mengalami depresi hanya akibat kurang bersyukur saja, toh segala hal kalau disyukuri akan membuat hati kita lapang. Saya dulu punya teman yang broken home, dan saya merasa dia berlebihan dalam menyikapinya. Padahal mungkin karena waktu itu hidup saya ada dalam taraf aman. Keluarga yang hangat, perhatian yang cukup, ru...