Langsung ke konten utama

Perempuan, jodoh dan S2.

Kemarin saya dan Mama saya ngobrol santai di meja makan. Tiba-tiba bahasannya menyerempet ke arah jodoh. Sebenarnya saya selalu menghindari topik macam begini dengan keluarga saya.

" Kamu kalau udah umur 25 belum nikah, udah susah cari jodoh nanti. S2 lagi"

Tante saya juga pernah bilang : "Kamu nggak mau sama si X? Dia S2 juga loh"

Wkwk xD

Ada yang perlu saya luruskan disini: Saya tidak pernah menganggap kuliah sebagai sarana mencari ijazah lalu pamer gelar dan lantas pilih-pilih teman apalagi jodoh. Allah tidak menilai orang dari ijazah, lantas saya siapa mau pilih suami dari strata pendidikan? Wkwk.

Alasan saya melanjutkan studi S2 bukan biar uang panai jadi tinggi macam yang di meme itu xD. Bahkan kalau misalnya saya juga menganggap diri saya sebuah barang yang bisa dilabeli dengan harga, saya juga tidak akan melabeli diri saya dengan harga tinggi. Kenapa? Saya yang tau  diri saya dengan semua kekurangannya.

Dari segi akademik saya bukan mahasiswa yang luar biasa, saya tergolong biasa saja.

Spiritualitas, iman saya suka naik turun (manusiawi sih), ilmu agama saya masih cetek. Dulu saya tergolong penuntut ilmu yang timbul tenggelam, lalu saya berhenti selama 2 tahun karena pulang kampung. Setelah di Bogor saya ulangi lagi dari awal. Semua ilmu menguap entah kemana. Dan sampai sekarang saya masih di materi ushul tsalatsah. Telat sekali kan? Hafalan saya? Standar.

Pekerjaan rumah tangga? Hahah, saya kadang merasa gagal sebagai perempuan. Saya suka iri melihat teman-teman perempuan yang jago masak sementara saya diumur segini cuma tau yang standar-standar itupun gak enak xD. Saya juga masih sering laundry karena gak kuat nyuci jilbab dan gamis yang berat.

Kepribadian? Banyak orang bilang saya sedikit aneh. Saya juga bukan tipikal perempuan kalem dan lembut. Kalau sudah kenal dekat, saya orangnya banyak omong dan banyak gerak.

Sifat dan sikap? Katanya saya belum dewasa. Saya juga orang yang egois walaupun saya sudah belajar untuk menjadi lebih peduli dan mengutamakan orang lain dari diri sendiri. Dan saya susah mengkomunikasikan masalah saya ke orang lain karena saya susah percaya pada orang (ini masalah saya, bukan mereka). Saya juga orangnya keras kepala, pelupa dan suka mengubah rencana alias plin-plan.

Selain itu, masih banyak lagi.

Semua kekurangan diatas tidak akan tertutupi hanya dengan gelar master xD. Saya masih perlu banyak berbenah. Mungkin karena itu juga saya masih dikasih waktu tunggu sama Allah.

Lagian siapa bilang perempuan S2 susah dapat jodoh? Semakin tinggi sekolahnya, semakin jauh perginya, semakin banyak temannya, semakin besar juga peluang ketemu jodoh wkwk xD. Mungkin saya akan ketemu jodoh di bandara, stasiun, atau tempat-tempat lain yang tidak terduga. Atau mungkin diantara teman-teman kuliah ada yang tertakdir jadi jodoh saya? Wkwk xD

Sejujurnya, saya geli sendiri menulis masalah jodoh-jodoh gini xD

Satu hal lagi, katanya perempuan yang hobi sekolah itu adalah perempuan mandiri yang akan membuat laki-laki ilfeel karena merasa tidak dibutuhkan.

Wkwk xD

Pertama, saya gak mandiri-mandiri amat. Saya masih sering merepotkan orang.

Kedua, apa yang salah dengan menjadi perempuan mandiri? Kita tidak tau bagaimana kondisi di masa depan nanti. Bisa jadi suami kita akan sangat sibuk dengan pekerjaannya atau pengabdiannya. Nah, dengan menjadi perempuan mandiri kita setidaknya bisa membantu meringankan beban pikiran suami. Tanggung jawab laki-laki sudah cukup banyak untuk keluarganya, anak istrinya, dan masyarakat. Jangan ditambah lagi dengan ocehan 'pilih kerjaan atau aku?' wkwk. Terbiasa tidak menjadi prioritas itu penting. Ingat, bahkan setelah menikah suami kita masih harus lebih mengutamakan ibunya dari kita.

Oh iya satu lagi yang terakhir, gimana caranya dapat jodoh kalau nggak pacaran?

Wkwk xD

Saya sama sekali tidak meragukan kemahakuasaan Allah dalam merekayasa takdir. Skenario manusia tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan skenarioNya. Allah telah menciptakan saya dengan sebaik-baik bentuk dan setepat-tepatnya perhitungan. Soal jodoh itu urusan ecek-ecek bagi Allah.

Dulu jaman S1, waktu saya lagi semangat-semangatnya ikut-ikut kuliah pra-nikah baca-baca buku tentang nikah, baper-baperan lihat teman akhwat yang ngirim undangan, tiba-tiba dalam satu kesempatan dipertemukan dengan seorang kakak yang bilang : " Menikah bukan cuma tentang cinta-cintaan. Di usia kalian ini merupakan titik kritis karena udah mulai mikirin ke arah pernikahan tapi yang dipikirin cuma enak-enaknya aja. Menikah itu seharusnya untuk membangun sebuah keluarga yang nantinya akan jadi pilar pembangun peradaban. Lihatlah Rasulullah, menikah tidak pernah cuma karena ingin doang. Ada misi dakwah dalam setiap pernikahannya. Nah kalian juga mestinya seperti itu. Jangan cuma karena pengen punya pacar halal yang bisa boncengin kemana-mana."

Saya punya banyak teman yang menikah muda. Awalnya jadi kepengen juga sampai akhirnya dengar nasihat kakak tadi dan saya berpikir, mereka menikah memang dengan persiapan yang matang. Lah saya? Masak saja tidak bisa, masih egois, ilmu pas-pasan trus ngeyel mau nikah muda wkwk xD.

Yakin Ka? Bukannya kamu nunda nikah karena takut? Wkwk xD. Ini karena belum ketemu orang yang tepat aja kok :P.

Dulu saya pengen nikah umur 21. Sekarang saya tidak menargetkan apa-apa selain menikmati waktu tunggu dengan mengisi diri. Saya tutup tulisan ini dengan mengutip perkataan mbak dea, dan salah satu ayat Ayat Alqur'an,

'Nggak ada istilah telat nikah. Allah menggariskan takdir dengan perhitungan yang setepat-tepatnya'

...dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya
(QS Al-Furqan : 2)



Semoga semoga semoga ini tulisan terakhir tentang nikah-nikah >.<

Komentar

You are Unique mengatakan…
Wajah kakak sepemikiran sama aku hehe.. aku juga rencana lanjut S2.. tapi kalo ngomongin jodoh..yaah persis seperti yg kakak utarakan di tulisan kakak ini hehe.. semoga kita sama2 bisa bertemu jodoh pilihan Allah di waktu yg tepat ya kak .. aamiin
Rafiqah Setiawaty mengatakan…
Aamiin :)
Semangat untuk S2nya :))
Mbak-mbak Aceh rasa Sunda mengatakan…
Banyak banget tulisan ki di postingan ini yang kontradiksi dengan realita sebenarnya. Jadi buat para pembaca The Unspoketable, eh, The Unspoken, mari kita ulas:

"Dari segi akademik saya bukan mahasiswa yang luar biasa, saya tergolong biasa saja."
Realita: Penulis merupakan salah satu mahasiswa yang bisa menyelesaikan studi tepat waktu. Top 10. (Apakah bagi ki ini biasa saja? Kalau iya, mungkin mulutku akan menganga dibuatnya.)

"Sifat dan sikap? Katanya saya belum dewasa. Saya juga orang yang egois walaupun saya sudah belajar untuk menjadi lebih peduli dan mengutamakan orang lain dari diri sendiri...."
Realita: Aku banyak belajar buat jadi dewasa dari Penulis #eciee. Dan penulis bukanlah orang egois, nyatanya Penulis seringnya mengutamakan kepentingan orang lain atas kepentingan dirinya sendiri. #cieeelagi

"Pertama, saya gak mandiri-mandiri amat. Saya masih sering merepotkan orang."
Realita: Kalau Penulis mengklaim seperti ini, apa kabar diri ini? Ya Allah T_T

"Semoga semoga semoga ini tulisan terakhir tentang nikah-nikah >.<"
Realita: Nyatanya tiga postingan terakhir membahas tentang nikah-nikah.

Cukup sekian dan terima kasih. Tulisan yang amat amat mencerahkan, MaasyaaAllah TabaarakAllah, I wish I read it earlier, wkwk. Ingin repost someday (ijin dulu yang penting wkwkwkwk)
Rafiqah Setiawaty mengatakan…
Wkwk haii kii makasi suda komen xD

Btw ki, ku komentarin komentar ki ya..
1. Aku cuma mahasiswa biasa kii yang ipknya pas2an huhu. Inget gak gimana berjuangnya kita dulu pas mau ujian itu beneran dah sampe aku nginep di kamar ki dan kita belajar sampe subuh. Kalo aku udah pinter pasti gak seberusaha itu wkwk. Masalah lulus tepat waktu, itu masalah nasib aja sih ki.. Kebetulan juga aku udah bergelut di bidang itu sejak S1. Jadi udah paham luar dalam apa yg harus ku lakuin. Lagian tesisku ecek2 dibandingkan kaliaan yg bener2 hasilnya bisa langsung diimplementasikan. Punyaku mah apaa cuma buktiin teorema doaang. Aku juga pengen lah bikin riset yang hasilnya implementatif kya klean.

2. Masalah kedewasaan ya ampon kiii itu cuma masalah pola pikir aja sih menurutku. Aku nggak lebih dewasa dari ki atau dari siapapun. Pola pikir kita kebentuk oleh banyak hal kan ya, salah satunya pengalaman, ya mungkin pengalaman kita berbeda jadinya pola pikir dan sudut pandang kita berbeda juga. Di beberapa hal justru ki yang terlihat lebih dewasa krn pengalaman ki dalam hal itu lebih banyak dari orang lain. Selain itu semakin berjalannya waktu kita bakal sadar akan banyak hal sih ki soal kedewasaan. Bahwa ternyata kita nggak sedewasa itu. Aku sampe di titik ini malah merasa aku butuh menjadi lebih sabar, humble, tidak terlalu sensitif dan baper, dan aku merasa belum dewasa krn blm mencapai itu wkwk..

3. Soal nikah-nikah kii, wkwk akupun kadang sulit menahan diri untuk nggak update2 soal dunia pernikahan aku. Kutau itu terlihat norak tapi ya gimana wkwkwk. Akhirnya kuputuskan untuk menulis aja tentang hal-hal yang aku pelajari setelah menikah. Karena ternyataaaa selama ini kupikir ku sudah paham teorinya tapi untuk implmentasinya masih harus banyak belajar wkwk. Menikah emang bener2 ngasih banyak banget pelajaran dan menyadarkan banyak hal tentang masa lalu yang selama ini salah ku persepsikan.

Kok aku malah curhaaaat wkwkwkk. Yaudah ki makasi ya udah mau mampir ke blog ini dan meninggalkan jejak. Semangat untuk tesisnya hwaiting!!
Anis Safitri mengatakan…
Assalamualaikum, Kak.
Apa yang Kak Rafiqah rasakan dulu di tahun 2017 juga saya rasakan sekarang. Saya mahasiswa S-2 semester 1, kemarin habis lulus S-1 langsung melanjutkan jenjang selanjutnya. Tulisan Kakak sangat menggambarkan keresahan saya, Kak. Hehe...
MasyaAllah, sekarang saya lihat Kakak sudah menjadi istri. Baraakallah, Kak. Terima kasih juga sudah menulis cerita yang membuat saya lebih optimis dari sebelumnya.

Postingan populer dari blog ini

Ramadhan

 Walaupun masih banyak sekali kekurangan, Ramadhan tahun ini ternyata merupakan salah satu Ramadhan terbaik yang bisa saya jalani. Anak yang sudah lebih besar dan mandiri, jarak tempat tinggal dan kantor yang hanya 5 langkah, dan jam kerja yang lebih fleksibel, mungkin adalah beberapa hal yang membuat Ramadhan kali ini terasa lebih khidmat. Ramadhan-ramadhan sebelumnya sebagai ibu hamil, menyusui, ibu dengan bayi menuju toddler, jam kerja yang masih padat, membuat saya kewalahan dalam mengatur ibadah. Puasa jelas banyak yang ketinggalan. Sholat sunnah sebisanya saja, yang penting sholat wajib tidak ketinggalan. Sholat tarawih dan Qur'an? Selalu diusahakan sebisanya. Duo ibadah primadona di bulan Ramadhan ini harus diikhlaskan karena masih sering ketempelan bocil. Meskipun kadang merasa sedih karena Ramadhan selalu menjadi waktu istimewa untuk umat Muslim, nyatanya saya hanya bisa melaluinya dengan ibadah 'alakadarnya'. Lalu saya bertemu dengan sebuah nasihat dari ukhti fill...

31

 Kebetulan kemarin baru ulang tahun yang ke 31 bareng suami, dan kami merayakannya di UGD Rumah Sakit :))) Alhamdulillah ala kulli haal Dalam sebulan belakangan ada cukup banyak pemicu stress yang bikin saya cukup kewalahan. Tapi selama saya bisa punya waktu tidur malam yang cukup, maka saya baik-baik saja. 2 diantara stressor tersebut adalah berita duka yang begitu mendadak. Sebagai sesorang yang takut kehilangan, dada saya sesak setiap kali mengingat kejadiannya. Salah satu keluarga yang kami sayangi berpulang, begitu cepat. Semakin memahamkan saya bahwa kematian itu begitu dekat. Bahwa hidup kita cuma sebentar saja di dunia. Setiap kali ada berita duka, selain mendoakan almarhum, saya juga berdoa semoga Allah memberi kelapangan untuk keluarga yang ditinggalkan, karena memang sesakit itu merasakan perubahan yang mendadak, butuh waktu cukup lama untuk membiasakan diri dengan ketiadaan seseorang. Saya pun berdoa jika kelak orang tua saya yang dipanggil duluan, hati saya diberi kela...

After They Left

I used to like to be alone. I can do anything I want without worrying about others. I always enjoy my me-time. I like to go to anywhere with myself because going with others will make me be depending on them. I liked to explore new places with myself. Yes, my self is enough for my company. I enjoyed being with my own. I liked to stay at my room for hours (with bunch of snacks, good movies, good dramas, good books). I didn't need any internet connection, I never touched my phone, and the door and window were always closed. Yes, I really enjoyed that. Sometimes, I went to the public space just with my own. Looking at the people, taking picture, doing silly things, alone. Sometimes I just went around the city by motorcycle with no direction. Alone. Sometimes I spent hours in bookstore (Being surrounded by books is my mood booster). Alone. No, I'm not an introvert. Ask my close friends or family, they know me really well. I just feel comfortable with my own company. I have m...