Langsung ke konten utama

Postingan

Sampah pikiran: Depresi dan menumbuhkan empati

Ada thread menarik di milis awardee beberapa waktu lalu. Tentang isu mental health yang dialami sebagian awardee luar negeri dan dalam negeri. Baru kali ini saya benar-benar mengikuti diskusi dalam milis. Seorang awardee menceritakan bagaimana pengalamannya melewati depresi dan percobaan bunuh diri. setelah mengikuti diskusi dan membaca blognya, ternyata banyak orang yang pernah mengalami mental health disorder ini. Mulai dari bipolar, depresi sampai ingin bunuh diri. Ada juga yang mengalami gejala bipolar akibat trauma bullying masa kecil. To be brutally honest, saya dulunya memandang sebelah mata para penderita penyakit mental ini. Entah kenapa bagi saya mereka yang mengalami depresi hanya akibat kurang bersyukur saja, toh segala hal kalau disyukuri akan membuat hati kita lapang. Saya dulu punya teman yang broken home, dan saya merasa dia berlebihan dalam menyikapinya. Padahal mungkin karena waktu itu hidup saya ada dalam taraf aman. Keluarga yang hangat, perhatian yang cukup, ru...

Perempuan, jodoh dan S2.

Kemarin saya dan Mama saya ngobrol santai di meja makan. Tiba-tiba bahasannya menyerempet ke arah jodoh. Sebenarnya saya selalu menghindari topik macam begini dengan keluarga saya. " Kamu kalau udah umur 25 belum nikah, udah susah cari jodoh nanti. S2 lagi" Tante saya juga pernah bilang : "Kamu nggak mau sama si X? Dia S2 juga loh" Wkwk xD Ada yang perlu saya luruskan disini: Saya tidak pernah menganggap kuliah sebagai sarana mencari ijazah lalu pamer gelar dan lantas pilih-pilih teman apalagi jodoh. Allah tidak menilai orang dari ijazah, lantas saya siapa mau pilih suami dari strata pendidikan? Wkwk. Alasan saya melanjutkan studi S2 bukan biar uang panai jadi tinggi macam yang di meme itu xD. Bahkan kalau misalnya saya juga menganggap diri saya sebuah barang yang bisa dilabeli dengan harga, saya juga tidak akan melabeli diri saya dengan harga tinggi. Kenapa? Saya yang tau  diri saya dengan semua kekurangannya. Dari segi akademik saya bukan mahasiswa yan...

Setelah setahun: Sebuah surat sederhana untuk teman-teman baikku :)

Teman-teman baikku, setahun yang lalu, saya masuk kuliah seminggu lebih lambat dari kalian. Saya duduk di barisan bangku kanan, dan berusaha sebisa saya menghafal nama dan wajah-wajah kalian. Sangat susah waktu itu, kelas analisis real ternyata diikuti oleh banyak senior, saya bingung, yang mana senior yang mana teman seangkatan. Di kelas aljabar linear dan persamaan diferensial juga sama. Belum lagi anak fastrack yang tidak ada satupun yang saya kenal wajah dan namanya. Anehnya, saat kelas metode komputasi, anak fastracknya berbeda lagi. Saya makin bingung. Butuh waktu berminggu-minggu untuk mengenal Holis sebagai Holis, bukan Sigit, dan untuk mengenal bahwa Sigit adalah Sigit. Karena awalnya saya pikir nama Holis adalah Sigit, dan Sigit entah siapa namanya (bingung ya? Wkwk). Butuh waktu untuk bisa membedakan Hasbi dan Heizlan tanpa tertukar, Butuh waktu juga untuk untuk terbiasa memanggil Tami dengan Tami, karena awalnya saya pikir namanya Tari. Butuh waktu untuk menyadari bahwa m...

Semester Dua.

Semester ini dimulai dengan kepercayaan diri yang sudah hancur berantakan. Perlahan-lahan menata hati kembali, belajar menerima keadaan dan berusaha lebih keras lagi. Semester ini seperti ujian tersendiri bagi mental saya. Saya yang selalu kagok bicara di depan umum, lantas dihadapkan dengan bejibun presentasi. Saya mengambil dua supporting courses di luar Mipa, mata kuliah ilmu sosial yang menuntut untuk berpikir kritis dan berani mengemukakan pendapat. Sesuatu yang selalu saya hindari, nyatanya harus saya hadapi selama semester ini. setelah saya hitung-hitung, saya memiliki 9 jadwal presentasi! Untuk seseorang yang satu saja sudah cukup membebani, 9 presentasi itu keterlaluan! Bukan, bukan presentasinya yang keterlaluan, saya yang keterlaluan karena belum bisa melatih diri menjadi lebih berani. Belum lagi masalah IPK yang bikin kepercayaan diri dan hati saya hancur berantakan. Padahal saat kuliah S1 beberapa kali saya dapat IP dua koma, tapi sekarang rasanya kok beda? semacam ada...

Sampah pikiran 140717

Beberapa waktu lalu saya sempat 'menyembunyikan' blog ini dengan mengubah pengaturan public ke private, artinya hanya saya yang bisa melihat blog ini. Ini karena saya merasa canggung blog saya dibaca orang. Lalu ada yang bertanya, kenapa menulis di blog kalau tidak ingin dibaca orang? Pertama, kenapa menulis? Karena saya menyukai kata-kata dan diksi, karena saya ingin berkarya lewat tulisan. Karena saya tipe orang yang tidak bisa bicara di depan umum. karena saya susah mengekspresikan isi kepala dengan berbicara. Karena tangan saya akan berkeringat hebat dan dingin seperti es saat harus berbicara tentang hal-hal serius di depan orang. Intinya, saya tidak pandai dalam bertutur lewat lisan. Dan tulisan adalah media saya dalam mengekspresikan diri. (Ini lebay sebenarnya wkwk xD) Kenapa harus di blog? Sejujurnya, biar keren! Haha! Saya memulai blog ini sejak tahun 2011 dan tulisan saya beragam, alay, dan berubah-ubah sesuai dengan bacaan saya saat itu. Tapi pada akhirnya bl...

Perempuan Seutuhnya

Sebenarnya tulisan sebelumnya itu mau menjelaskan tentang kedudukan perempuan dan laki-laki yang memiliki fitrah masing-masing, yang tidak bisa disamakan. Tapi seperti biasa, saya menulis karena hal tersebut punya kaitan dengan kehidupan saya. Jadi tulisan ini merupakan sambungan dari tulisan sebelumnya, yang walaupun mungkin agak tidak nyambung, tapi silakan dicari sendiri benang merahnya. Jadi sudah kurang lebih setahun saya menempuh pendidikan magister saya. Beberapa orang kadang mempertanyakan tujuan saya menempuh pendidikan tinggi. Walaupun sekarang perempuan yang bertitel master, doktor atau profesor itu sudah biasa, tapi masih ada beberapa yang menganggap bahwa perempuan tidak perlu terlalu memikirkan masalah pendidikan tinggi karena tempat akhirnya adalah rumah dan dapur. Tidak perlu bertitel panjang karena nanti akan susah dapat jodoh. Tidak perlu kerja di luar karena tugasnya adalah melayani suami dan mendidik anak. Iya, saya paham. Tapi yang perlu diluruskan disini ada...

Sesuai Pada Tempatnya

Awalnya mau dikasih judul Islam dan feminisme, eits tapi rasanya kok berat banget ya? apalagi pengetahuan saya masalah itu masih dangkal sekali. Tapi saya hanya ingin menulis apa yang saya ketahui. Kita mengenal feminisme sebagai suatu gerakan yang mendukung penyetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam berbagai bidang. Seperti yang kita tahu, lahirnya feminisme, atau isme-isme yang lain, sebenarnya karena masalah yang muncul di tengah masyarakat.Gerakan ini lahir di Eropa karena dulu perempuan dianggap sebagai kaum inferior dan tidak memiliki hak yang setara dengan kaum laki-laki. Padahal kalau kita mau berbangga, jauh sebelum feminisme lahir, Islam sudah lebih dulu datang dan memuliakan perempuan. Kita ketahui dalam sejarah Arab jahiliyah, perempuan sangat dibenci dan direndahkan, sampai Islam hadir dan menghapus semua diskriminasi atas gender dan status sosial. Semua manusia sama di mata Allah, yang membedakan hanya tingkat ketakwaannya. Yang mengherankan adalah banyak yang...