Langsung ke konten utama

Postingan

Motherhood

 Tumben shift saya selesai secepat ini. Suami lagi ada meeting, and here I am, checkin my blog dan menyadari bahwa terakhir kali menulis di sini udah 5 bulan lalu. Waw. Anyway, yang dimaksud dengan shift di sini adalah pekerjaan utama saya sebagai ibunya Maryam. Jadi shift saya dimulai sejak dia bangun pagi, sampai tidur lagi di malam hari. Karena hari ini libur, saya jadi nggak kerja dan Maryam jadi bisa tidur cepat (di bawah jam 8). Jadii mari kita bercerita sedikit. Tentang dunia baru saya. Tentang menjadi ibu. Ciehh. Seperti manusia lainnya, saya sudah melewati banyak sekali fase sebelum sampai ke sini. Setiap fase membutuhkan adaptasi karena bisa jadi banyak yang berubah dengan keadaan. Dan harus saya katakan bahwa menjadi ibu adalah adaptasi terbesar yang pernah saya alami. Mungkin, seorang yang telah menjadi ibu pun, pengalamannya bisa berbeda. Yang tinggal bareng suami dengan bantuan orang tua/mertua,yang LDR, yang tinggal bareng suami dibantu ART, yang mandiri tanpa orang ...

Episode 3: Konflik

Agak maju mundur mau nulis ini karena saya juga masih kesulitan dengan manajemen konflik. Saya pengen postingan di blog ini tetap bijak, tapi nyatanya saya nggak sebijak itu. Jadi saya menuliskan pengalaman dan kontemplasi saya aja. Sekalian memperingati 2 tahun pernikahan kami. Sejujurnya, saya bukan orang yang mahir dalam manajemen konflik. Sejauh ini yang saya bersyukur bahwa konflik kami nggak jauh-jauh dari rebutan kamar mandi, pulang telat, terlalu sibuk dengan urusan masing-masing, susah nyari quality time berdua, dll. Jangan dibayangkan berantemnya berantem yang romantis alaala drama gitu ya. Nggak. Kami yang beneran berantem gegara hal itu wkwk.  Satu saya pelajari, dalam rumah tangga, nggak ada yang namanya racikan pas untuk menengahi sebuah konflik. Sama halnya dengan nggak ada racikan yang paten dalam membangun chemistry. Semuanya bergantung dari kondisi masing-masing. Tapi yang penting adalah, semua hal selalu bisa diusahakan. Kita bisa melihat sejauh mana keinginan du...

Perempuan

Jika ada yang mengajak saya bicara tentang feminisme, maka saya hanya bisa menjawab: sependek yang saya pahami, islam sudah mengatur tentang hak dan kewajiban perempuan, islam juga mengatur tentang kesetaraan perempuan, feminisme adalah produk pemikiran manusia yang bisa jadi ada cacatnya. Dalam beberapa hal ia beririsan dengan konsep perempuan dalam islam, dalam hal lain justru bertentangan. Saya mencukupkan diri sampai di situ. Karena saya tidak belajar mendalam tentang feminisme, dan saya paham, feminisme punya banyak jenis, dan konsep yang ada saat ini masih belum final dan masih akan terus berkembang. Selain itu, saya masih belum bisa relate. Saya berada dalam keluarga yang berpikiran cukup terbuka. Sebagai -perempuan saya diizinkan untuk pergi kemanapun dalam rangka menuntut ilmu. Memang ada perkataan orang-orang seperti 'perempuan tidak perlu sekolah tinggi', 'perempuan yang sekolah tinggi akan susah dapat jodoh', dll. Tapi tidak pernah saya tanggapi. Terbukti sa...

Tentang MengASIhi

“Dan bagi para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan..." (QS Al-Baqarah: 233) Maryam lahir dengan kondisi ketuban keruh sehingga harus diberikan antibiotik selama 3 hari di rumah sakit. Kami tidak melakukan IMD dan protokol rumah sakit di masa pandemi ini melarang orang tua untuk bertemu si bayi.  Sebenarnya saya juga tidak paham kenapa bayinya tidak dibawa ke kamar untuk menyusu dan justru diberikan susu formula di hari-hari pertamanya. Padahal saya sudah bertekad ASI ekslusif, dan setelah melahirkan, kolostrum saya cuma tumpah-tumpah aja nggak diminum Maryam. Sedih. Susahnya lagi ASI saya akhirnya nggak langsung keluar karena nggak ada stimulasi dari hisapan bayi. Sejak dulu saya sebenarnya nggak pernah menentang soal pemberian susu formula pada bayi. Karena saya sendiri juga merupakan bayi sufor dulunya. Tapi setelah  menjadi ibu, dan saya tau bahwa mengASIhi memang layak diperjuangkan, maka saya perjuangk...
Pembelajaran di tahun ajaran baru sudah dimulai dengan sistem distant learning atau pembelajaran jarak jauh. Sudah sejak lama sebenarnya keberadaan internet dimanfaatkan dalam pendidikan. Dapat dilihat dari merebaknya online course dan banyaknya materi pembelajaran yang bisa didapatkan secara daring. Sebenarnya sudah sejak lama pemerintah mengintegrasikan pembelajaran kita dengan kemajuan teknologi sebagai bentuk adaptasi terdapat perubahan. Sehingga saat pandemi ini menyerang, meskipun belum ada rumusan yang baik, kita terpaksa mengimplementasikan pembelajaran jarak jauh dengan memanfaatkan internet. Sejauh ini semuanya masih terasa mudah. Tapi yang perlu kita ingat adalah setiap perubahan pasti memiliki tantangan masing-masing.  Kita merasakan kemudahan karena berada di lingkungan yang mendukung sistem pembelajaran ini. Tapi tidak bisa kita lupakan bahwa ada orang-orang yang tidak seberuntung kita baik dengan lingkungan maupun modal untuk beradaptasi. Contoh sederhananya smartpho...

Mengkhawatirkanmu

Teruntuk manusia mungil yang mungkin sedang terlelap di dalam sana, yang menjadi sumber harapan, kebahagiaan dan tentu saja kekhawatiran sejak awal tahun ini. Ternyata perempuan (atau mungkin cuma saya), bisa selebay ini dalam khawatir. Melihat kembali ke awal tahun ini, saat pertama kali melihat dua garis merah. Pertama kali menyadari keberadaanmu. Kaget. Kalau saja ada alat yang bisa merekam perasaan, tentu saja saya sangat ingin merekam campur aduknya perasaan saya saat itu. Tapi ada satu perasaan yang dominan: khawatir. Entah khawatir karena apa. Mungkin khawatir tidak bisa menjadi rumah yang nyaman untukmu selama sembilan bulan ke depan. Disaat itu pula kita melakukan perjalanan cukup panjang yang sekali lagi membuat saya khawatir. Wujudmu yang bahkan belum terlihat. Dan fase itu adalah fase paling berisiko untuk keberadaan kamu di dalam sana. Dalam hati saya ingin menguatkan kamu, 'bertahan ya'. Padahal itu adalah untuk menenangkan diri sendiri. Tapi kamu hebat, ka...

Apresiasi

Apresiasi yang tulus mungkin bisa jadi barang mahal saat ini. Sering kita dengar saat ada yang memuji pencapaian seseorang, ada yang nyeletuk "wajar sih dia kan bla bla bla" sambil menyebutkan privilege yang dimiliki orang tersebut. Padahal kita tidak pernah tahu perjuangan dia secara utuh untuk mencapai sesuatu. Kalaupun kita bertukar posisi dengannya, belum tentu pencapaiannya bisa sama walaupun kita mendapat modal serupa.  Makin kesini mungkin kerasa susahnya memberi apresiasi yang tulus karena kita selalu membandingkan kelebihan yang dimiliki orang lain dengan keterbatasan kita, kita suka meremehkan usaha orang lain hanya karena mereka lebih bermodal dari kita. Kita hidup di era dimana segala hal bisa dijadikan kompetisi. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan kompetisi. Hanya saja, kita akan rentan jatuh dalam 2 keadaan: memandang rendah diri sendiri jika pencapaian kita tidak secemerlang orang lain, atau justru jatuh pada penyakit hasad kalau kita tidak berusaha meren...